Misalkan kita mempunyai 3 buah network A,B dan C. Dan kita hendak menghubungkan salah satu komputer di jaringan A dengan salah satu komputer di jaringan C. Gambar route-nya kurang lebih sebagai berikut:
IP network A = 192.168.1.0/24 IP network B = 172.16.1.0/24 IP network C = 10.1.100.0/24 IP Address PC-1 = 192.168.1.1/24 IP Address PC-2 = 10.1.100.1/24 Langkah-langkah seting Static Routing MikroTikadalah sbb: 1. Tambahkan IP Address untuk masing-masing interface pada masing-masing router. Pada Router R1 :
ip address add address=192.168.1.254/24 interface=ether1 --> untuk interface yang terhubung ke network A
ip address add address=172.16.1.254/24 interface=ether2 --> untuk interface yang terhubung ke network B
Pada Router R2 :
ip address add address=10.1.100.254/24 interface=ether1 --> untuk interface yang terhubung ke network C
ip address add address=172.16.1.253/24 interface=ether2 --> untuk interface yang terhubung ke network B
2. Tambahkan Gateway untuk masing-masing router. Pada Router R1 :
ip route add dst-address=10.1.100.0/24 gateway=172.16.1.253
Pada Router R2 :
ip route add dst-address=192.168.1.0/24 gateway=172.16.1.254
Contoh konfigurasi Router R1 dan R2 dengan CLI
Tabel RoutingStatic masing-masing Router pada Winbox:
3. Seting IP Address dan Gateway pada PC-1 dan PC-2
gateway PC-1 = 192.168.1.254
gateway PC-2 = 10.1.100.254
4. Setelah setingan selesai lakukan perintah PING atau TRACERT antar komputer untuk memastikanstatic-routingtelah berhasil dibuat.
Pada suatu jaringan bisnis berskala besar atau enterprise yang terdiri dari banyak lokasi yang tersebar secara remote, maka komunikasi antar site dengan management routing protocol yang bagus adalah suatu keharusan. Baik static route ataupun dynamic routing haruslah di design sedemikian rupa agar sangat efficient.
Suatu static route adalah suatu mekanisme routing yang tergantung dengan routing table dengan konfigurasi manual. Disisi lain dynamic routing adalah suatu mekanisme routing dimana pertukaran routing table antar router yang ada pada jaringan dilakukan secara dynamic. Lihat juga artikel memahami IP routing protocols.
Dalam skala jaringan yang kecil yang mungkin terdiri dari dua atau tiga router saja, pemakaian static route lebih umum dipakai. Static router (yang menggunakan solusi static route) haruslah di configure secara manual dan dimaintain secara terpisah karena tidak melakukan pertukaran informasi routing table secara dinamis dengan router-router lainnya. Lihat juga artikel tentang memahami hardware router.
Suatu static route akan berfungsi sempurna jika routing table berisi suatu route untuk setiap jaringan didalam internetwork yang mana dikonfigure secara manual oleh administrator jaringan. Setiap host pada jaringan harus dikonfigure untuk mengarah kepada default route atau default gateway agar cocok dengan IP address dari interface local router, dimana router memeriksa routing table dan menentukan route yang mana digunakan untuk meneruskan paket. Lihat juga DNS forwarding untuk memahami default gateway.
Konsep dasar dari routing adalah bahwa router meneruskan IP paket berdasarkan pada IP address tujuan yang ada dalam header IP paket. Dia mencocokkan IP address tujuan dengan routing table dengan harapan menemukan kecocokan entry – suatu entry yang menyatakan kepada router kemana paket selanjutnya harus diteruskan. Jika tidak ada kecocokan entry yang ada dalam routing table, dan tidak ada default route, maka router tersebut akan membuang paket tersebut. Untuk itu adalah sangat penting untuk mempunyai isian routing table yang tepat dan benar.
Static route terdiri dari command-command konfigurasi sendiri-sendiri untuk setiap route kepada router. sebuah router hanya akan meneruskan paket hanya kepada subnet-subnet yang ada pada routing table. Sebuah router selalu mengetahui route yang bersentuhan langsung kepada nya – keluar interface dari router yang mempunyai status “up and up” pada line interface dan protocolnya. Dengan menambahkan static route, sebuah router dapat diberitahukan kemana harus meneruskan paket-paket kepada subnet-subnet yang tidak bersentuhan langsung kepadanya.
Gambar berikut adalah contoh diagram agar memudahkan kita memahami bagaimana kita harus memberikan konfigurasi static route kepada router. Pada contoh berikut ini dua buah ping dilakukan untuk melakukan test connectivity IP dari Sydney router kepada router Perth.
Router Sydney melakukan beberapa EXEC command dengan hanya kepada router-router yang terhubung langsung kepadanya.
Sydney#show ip route
Codes: C – connected, S – static, I – IGRP, R – RIP, M – mobile, B – BGP
D – EIGRP, EX – EIGRP external, O – OSPF, IA – OSPF inter area
N1 – OSPF NSSA external type 1, N2 – OSPF NSSA external type 2
E1 – OSPF external type 1, E2 – OSPF external type 2, E – EGP
i – IS-IS, L1 – IS-IS level-1, L2 – IS-IS level-2, ia – IS-IS inter area
* – candidate default, U – per-user static route, o – ODR
P – periodic downloaded static route
Gateway of last resort is not set
10.0.0.0/24 is subnetted, 3 subnets
C 10.20.1.0 is directly connected, Ethernet0
C 10.20.130.0 is directly connected, Serial1
C 10.20.128.0 is directly connected, Serial0
Sydney#ping 10.20.128.252
Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 10.20.128.252, timeout is 2 seconds:
!!!!!
Success rate is 100 percent (5/5), round-trip min/avg/max = 4/4/8 ms
Sydney#ping 10.20.2.252
Type escape sequence to abort.
Sending 5, 100-byte ICMP Echos to 10.20.2.252, timeout is 2 seconds:
…..
Success rate is 0 percent (0/5)
Command ping mengirim paket pertama dan menunggu response. Jika diterima adanya respon, maka command menampilkan suatu karakter “!”. Jika tidak ada response diterima selama default time-out 2 seconds, maka command ping menampilkan response suatu karakter “.”. secara default router Cisco dengan command ping menampilkan 5 paket.
Pada contoh diagram diatas, command ping 10.20.128.252 adalah jalan bagus, akan tetapi untuk command ping 10.20.2.252 justru tidak jalan. Command ping pertama berjalan OK karena router Sydney mempunyai suatu route kepada subnet dimana 10.20.128.252 berada (pada subnet 10.20.128.0). akan tetapi, command ping 10.20.2.252 tidak jalan karena subnet dimana 10.20.2.252 berada (subnet 10.20.2.0) tidak terhubung langsung kepada router Sydney, jadi router Sydney tidak mempunyai suatu route pada subnet tersebut.
Untuk mengatasi masalah ini, maka perlu di-enabled pada ketiga router dengan routing protocols. Untuk konfigurasi sederhana seperti contoh diagram diatas, penggunaan route static adalah suatu solusi yang memadai.
Maka untuk router Sydney harus diberikan konfigurasi static route seperti berikut ini:
Ip route 10.20.2.0 255.255.255.9 10.20.128.252
Ip route 10.20.3.0 255.255.255.0 10.20.130.253
Pada command ip route haruslah diberikan nomor subnet dan juga IP address hop (router) berikutnya. Satu command ip route mendefinisikan suatu route kepada subnet 10.20.2.0 (mask 255.255.255.0), dimana berlokasi jauh di router Perth, sehingga IP address pada hop berikutnya pada router Sydney adalah 10.20.128.252, yang merupakan IP address serial0 dari router Perth. Serupa dengannya, suatu route kepada 10.20.3.0 yang merupakan subnet pada router Darwin, mengarah pada serial0 pada router Darwin yaitu 10.20.130.253. Ingat bahwa IP address pada hop berikutnya adalah IP address pada subnet yang terhubung langsung – dimana tujuannya adalah mengirim paket pada router berikutnya. Sekarang router Sydney sudah bisa meneruskan paket kepada kedua subnet di luar router tersebut (yang tidak bersentuhan pada router Sydney).
Anda bisa melakukan konfigurasi static route dengan dua cara yang berbeda. Dengan serial link point-to-point, anda juga bisa melakukan konfigurasi kepada interface outgoing ketimbang pada IP address router pada hop berikutnya. Misalkan anda bisa mengganti ip route diatas dengan command yang sama yaitu ip route 10.20.2.0 255.255.255.0 serial0 pada router pertama pada contoh diatas.
Kita sudah memberikan konfigurasi pada router Sydney dengan menambahkan static route, sayangnya hal ini juga belum menyelesaikan masalah. Konfigurasi static route pada router Sydney hanya membantu router tersebut agar bisa meneruskan paket pada subnet berikutnya, akan tetapi kedua router lainnya tidak mempunyai informasi routing untuk mengirim paket balik kepada router Sydney.
Misalkan saja, sebuah PC Jhonny tidak dapat melakukan ping ke PC Robert pada jaringan ini. Masalahnya adalah walaupun router Sydney mempunyai route ke subnet 10.20.2.0 dimana Robert berada, akan tetapi router Perth tidak mempunyai route kepada 10.20.1.0 dimana Jhonny berada. Permintaan ping berjalan dari PC Jhonny kepada Robert dengan baik, akan tetapi PC Robert tidak bisa merespon balik oleh router Perth kepada router Sydney ke Jhonny, sehingga dikatakan respon ping gagal.
Keuntungan static route:
Static route lebih aman disbanding dynamic route
Static route kebal dari segala usaha hacker untuk men-spoof paket dynamic routing protocols dengan maksud melakukan configure router untuk tujuan membajak traffic.
Kerugian:
Administrasinya adalah cukup rumit disbanding dynamic routing khususnya jika terdiri dari banyak router yang perlu dikonfigure secara manual.
Rentan terhadap kesalahan saat entry data static route dengan cara manual.
Apa yg dimaksud dengan static routing ?, static routing adalah salah satu cara untuk membuat table routing secara manual.
Static routing ini berguna untuk jaringan sederhana yg menggunakan beberapa router dan juga untuk menghemat penggunaan bandwidth.
Dalam Cisco Router, static routing secara default sudah dalam posisi enable, jadi jika ingin membuat IP staticrouting cukup dengan mengetikkan perintah :
apa itu <subnet mask> ??? adalah subnet mask dari jaringan yg dituju
apa itu <default gateway> ??? adalah IP address Gateway, biasanya IP address router yg berhubungan langsung.
Apa itu <administrative distance> ??? adalah nilai 0-255 yg diberikan pada routing. Bertambah rendah nilai yg diberikan bertambah tinggi kegunaannya. Jika tidak diberikan, nilai default akan dipakai. Nilai default untuk directly connected (C) =0 dan statically connected (S) =1.
Contoh : Router0(config)# ip route 192.168.12.0 255.255.255.0 202.200.100.2
Study kasus, terdapat 3 router yg menghubungkan 4 IP Network yg berbeda, dimana masing-2x pc client harus dapat berkomunikasi satu dengan lainnya. Gimana configurasi didalamnya ?? supaya semua pc bs terhubung satu dengan lainnya ???
Router0 configuration :
Cab.Jakarta#sh run
Building configuration…
Current configuration : 709 bytes
!
version 12.3
no service password-encryption
!
hostname Cab.Jakarta
!
interface FastEthernet0/0
no ip address
duplex auto
speed auto
shutdown
!
interface FastEthernet0/1
no ip address
duplex auto
speed auto
shutdown
!
interface Serial0/0/0
ip address 202.200.200.1 255.255.255.252
clock rate 64000
!
interface Serial0/0/1
ip address 202.200.100.1 255.255.255.252
clock rate 64000
!
interface Vlan1
no ip address
shutdown
!
ip classless
ip route 192.168.13.0 255.255.255.0 202.200.100.2
ip route 192.168.12.0 255.255.255.0 202.200.100.2
ip route 192.168.10.0 255.255.255.0 202.200.200.2
ip route 192.168.11.0 255.255.255.0 202.200.200.2
!
!
line con 0
line vty 0 4
login
!
!
end
Cab.Jakarta#
Router1 configuration :
Cab.Bandung#sh run
Building configuration…
Current configuration : 587 bytes
!
version 12.3
no service password-encryption
!
hostname Cab.Bandung
!
interface FastEthernet0/0
ip address 192.168.10.1 255.255.255.0
duplex auto
speed auto
!
interface FastEthernet0/1
ip address 192.168.11.1 255.255.255.0
duplex auto
speed auto
!
interface Serial0/0/0
ip address 202.200.200.2 255.255.255.252
!
interface Vlan1
no ip address
shutdown
!
ip classless
ip route 202.200.100.0 255.255.255.252 202.200.200.1
ip route 192.168.13.0 255.255.255.0 202.200.100.2
ip route 192.168.12.0 255.255.255.0 202.200.100.2
!
!
line con 0
line vty 0 4
login
!
!
end
Cab.Bandung#
Router2 configuration :
Cab.Bogor#sh run
Building configuration…
Current configuration : 585 bytes
!
version 12.3
no service password-encryption
!
hostname Cab.Bogor
!
!
interface FastEthernet0/0
ip address 192.168.12.1 255.255.255.0
duplex auto
speed auto
!
interface FastEthernet0/1
ip address 192.168.13.1 255.255.255.0
duplex auto
speed auto
!
interface Serial0/0/0
ip address 202.200.100.2 255.255.255.252
!
interface Vlan1
no ip address
shutdown
!
ip classless
ip route 202.200.200.0 255.255.255.252 202.200.100.1
ip route 192.168.10.0 255.255.255.0 202.200.200.2
ip route 192.168.11.0 255.255.255.0 202.200.200.2
!
!
line con 0
line vty 0 4
login
!
!
end
Cab.Bogor#
Ping test dari PC0 to PC7
PC>ping 192.168.13.11
Pinging 192.168.13.11 with 32 bytes of data:
Reply from 192.168.13.11: bytes=32 time=181ms TTL=125
Reply from 192.168.13.11: bytes=32 time=227ms TTL=125
Reply from 192.168.13.11: bytes=32 time=264ms TTL=125
Reply from 192.168.13.11: bytes=32 time=302ms TTL=125
Ping statistics for 192.168.13.11:
Packets: Sent = 4, Received = 4, Lost = 0 (0% loss),
Approximate round trip times in milli-seconds:
Minimum = 181ms, Maximum = 302ms, Average = 243ms
Ping test dari PC0 to PC7
PC>ping 192.168.11.10
Pinging 192.168.11.10 with 32 bytes of data:
Reply from 192.168.11.10: bytes=32 time=258ms TTL=125
Reply from 192.168.11.10: bytes=32 time=291ms TTL=125
Reply from 192.168.11.10: bytes=32 time=220ms TTL=125
Reply from 192.168.11.10: bytes=32 time=237ms TTL=125
Ping statistics for 192.168.11.10:
Packets: Sent = 4, Received = 4, Lost = 0 (0% loss),
Routing adalah proses dimana suatu router menforward paket ke jaringan yang dituju. Suatu router membuat keputusan berdasarkan ip address yang dituju oleh paket. Semua router menggunakan ip address tujuan untuk mengirim paket. Jika routing yang digunakan adalah statik maka konfigurasinya harus dilakukan secara manual, administrator jaringan harus memasukkan atau menghapus rute statis jika ada perubahan topologi.
Suatu jaringan bisnis berskala besar atau enterprise yang terdiri dari banyak lokasi yang tersebar secara remote, maka komunikasi antar site dengan management routing protocol yang bagus adalah suatu keharusan. Baik static routing ataupun dynamic routing haruslah di design sedemikian rupa agar sangat efficient.
Static routing adalah suatu mekanisme routing yang tergantung dengan routing table dengan konfigurasi manual. Disisi lain dynamic routing adalah suatu mekanisme routing dimana pertukaran routing table antar router yang ada pada jaringan dilakukan secara dynamic. Static routing berguna untuk jaringan sederhana yang menggunakan beberapa router dan juga untuk menghemat penggunaan bandwidth.
* Perbandingan Static dan Dynamic Routing
Cara kerja routing statik dapat dibagi menjadi 3 bagian :
* Administrator jaringan yang mengkonfigurasi router
* Router melakukan routing berdasarkan informasi dalam table routing
* Routing statis digunakan untuk melewatkan paket data
Administrative Distance
Administrative distance adalah parameter tambahan yang menunjukkan reliabilitas dari rute. Semakin kecil nilai administrative distance maka makin realibel rutenya. Default administrative distance pada routing statis adalah 1. Nilai dari administrative distance adalah antara 0 sampai 255 yang diberikan setalah next-hop atau gateway.
Konfigurasi Routing Statik
Langkah-langkah untuk melakukan routing statis sebagai berikut
* Tentukan dahulu prefix jaringan,subnet mask, dan address tujuan
* Tambahkan ke dalam tabel route tujuan address
* Masukkan gateway interface atau address next-hop yang direct routing atau terhubung secara langsung ke router tetangga.
Router harus dikonfigurasi sehingga dapat mencapai jaringan 192.168.3.0 dan 192.168.1.0 dengan subnet 255.255.255.0.
· Paket yang tujuannya ke jaringan ke 192.168.3.0 harus dirutekan ke router A.
· Paket yang tujuannya ke jaringan ke 192.168.1.0 harus dirutekan ke router C
Konfigurasi di semua mesin sebagai berikut :
Disini menggunakan perintah dalam routerOS ( courtesy By mikrotik.Router A
Ip route add dst-address=192.168.2.0/24 gateway=172.16.1.2
Ip route add dst-address=192.168.1.0/2 gateway=172.16.1.2
Router B
Ip route add dst-address=192.168.3.0/24 gateway=172.16.1.1
Ip route add dst-address=192.168.1.0/24 gateway=172.16.5.2
Router C
Ip route add dst-address=192.168.2.0/24 gateway=172.16.5.1
Ip route add dst-address=192.168.3.0/24 gateway=172.16.5.1
Routing Default
* Default routing digunakan untuk merutekan paket dengan tujuan yang tidak sama dengan routing yang ada dalam table routing.
* Secara tipikal router dikonfigurasi dengan cara routing default untuk trafik internet.
* Secara aktual menggunakan format dst-address=0.0.0.0/0 gateway=x.x.x.x
Troubleshooting Routing Statik
* Untuk troubleshooting routing statik kita dapat menggunakan tool ping dan traceroute.
* Contoh jika kita dalam router A kemudian kita lakukan ping ke local network jaringan router C tidak berhasil atau gagal gunakan perintah traceroute untuk mengetahui jalur mana yang putus. Kemungkinan masalahnya berada pada router B atau router C.
* Remote router B dan lakukan ping ke router C pastikan berhasil karena router B terhubung langsung dengan router C.
Penentuan Jalur dalam Routing Statik ( Path )
Router menggunakan dua fungsi dasar:
* Fungsi penentuan jalur
* Fungsi switching
Penentuan jalur terjadi pada layer network. Fungsi penentuan jalur menjadikan untuk mengevaluasi jalur ke tujuan dan membentuk jalan untuk menangani paket. Router menggunakan tabel routing untuk menentukan jalur terbaik dan kemudian fungsi switching untuk melewatkan paket.
Pada dasarnya, komunikasi terjadi antara dua komputer. Misalnya, Amir berkomunikasi dengan Badu dalam satu jaringan, maka dapat diilustrasikan seperti pada Gambar 4.1
Gambar 4.1 Komunikasi dua komputer
Jika Amir dan Badu hendak berkomunikasi di jaringan yang lebih besar, dan antara keduanya tidak berada pada jaringan sama, maka perlu penghubung agar keduanya dapat saling berhubungan/berkomunikasi. Penghubung antara satu jaringan dengan jaringan yang lain disebut sebagai router.
Gambar 4.2 Komunikasi antar jaringan membutuhkan penghubung (Router)
Konsepnya, pengirim paket akan menguji tujuan dari paket apakah tujuan IP berada pada jaringan lokal atau tidak. Jika tidak, pengirim paket akan meminta bantuan ke router yang terhubung dengannya dan paket diberikan ke router untuk diteruskan. Router yang diberi paket pada prinsipnya juga bekerja seperti pengirim paket tadi. Setiap router mengulangi cara yang sama sampai paket berada pada router yang mempunyai koneksi lokal dengan penerima.
Router bertugas untuk menyampaikan paket data dari satu jaringan ke jaringan lainnya, jaringan pengirim hanya tahu bahwa tujuan jauh dari router. Dan routerlah yang mengatur mekanisme pengiriman selain itu router juga memilih “jalan terbaik” untuk mencapai tujuan. Diberikan ilustrasi sederhana dapat dilihat pada gambar 4.3.
Gambar 4.3 Konsep Pengiriman Paket Melalui Router
Meneruskan sebuah paket melalui router sangatlah sederhana. Router dikoneksi langsung ke Amir, sehingga dapat mengirim sebuah paket Ethernet ke Badu dengan menentukan alamat ethernet-nya sebagai tujuan. Akan tetapi pada tingkat IP, tujuan akhir dari paket adalah Badu, bukan router. Dengan demikian Amir menset alamat tujuan IP ke IP Badu. Hasilnya adalah paket dengan pengalamatan sbb :
Source
Destination
source
Destination
MAC
Ethernet Address Amir
Ethernet Address Router
MAC
Ethernet Address Amir
Ethernet Address Badu
IP
IP Address Amir
IP Address Badu
IP
IP Address Amir
IP Address Badu
Koneksi via Router
Koneksi langsung
Tabel 4.1 Paket dan Pengalamatan
Dari tabel 4.1 ada beberapa hal yang perlu diperhatikan :
·Source address (Alamat Pengirim) : baik ethernet dan IP terhubung ke Amir.
·Destination Address (Alamat tujuan) : Ethernet ke router sedangkan IP tujuan ke Badu. Ethernet tujuan dalam paket hanya terkait dengan hop, sedangkan IP tujuan adalah tujuan paket.
·Ketika sebuah router menerima paket dengan Nomor IP yang bukan miliknya, maka ini menjadi permintaan implisit untuk meneruskan paket ke tujuan.
·Sebuah mesin hanya bisa meneruskan paket ke router yang terkoneksi langsung dengannya. Dan digunakan mekanisme yang sama untuk mengirim ke sebuah router. Jika tidak ada router pada jaringan Amir, maka Amir tidak dapat mengirim ke semua komputer di luar jaringannya.
·Router juga dapat melewatkan paket hanya ke host/router yang ada pada jaringan yang terkoneksi langsung kepadanya. Dengan demikian supaya router berfungsi, ia harus dikoneksikan langsung ke lebih dari satu jaringan.
Perjalanan melintasi jaringan ke banyak hop :
·Setiap hop yang berubah adalah segmet ethernet dari tujuan.
·Setiap hop adalah pengirim ke router, router ke router atau router ke tujuan.
Kita dapat mendiagnosa memakai tcpdump. Sehingga kita dapat memeriksa jalannya jaringan dan jika ada masalah bisa mengetahui masalah ada pada hop yang mana.
Gambar 4.4 berikut ini merupakan ilustrasi perubahan alamat paket dari hop ke hop sampai data ke tujuan.
Gambar 4.4 Ilustrasi Perubahan Alamat Paket Hop demi Hop
Jadi yang berubah hanya MAC Address, sedangkan nomor IP selalu sama.
Default Gateway
Router adalah komputer general purpose (untuk tujuan yang lebih luas) dengan dua atau lebih interface jaringan (NIC Card) di dalamnya yang berfungsi hubungan 2 jaringan atau lebih, sehingga dia bisa meneruskan paket dari satu jaringan ke jaringan yang lain.
Untuk jaringan kecil, interface-nya adalah NIC Card, sehingga router mempunyai 2 NIC atau lebih yang bisa menghubungkan dengan jaringan lain. Untuk LAN kecil yang terhubung internet, salah satu interface adalah NIC card, dan interface yang lain adalah sembarang hardware jaringan misal modem untuk leased line atau ISDN atau koneksi internet ADSL yang digunakan.
Router bisa dibuat dari komputer yang difungsikan sebagai router, jadi tidak harus hardware khusus misalnya cisco router .
Default gateway dari suatu jaringan merupakan sebuah router yang digunakan untuk meneruskan paket-paket dari jaringan tersebut ke jaringan yang lain.
Biasanya LAN dikonfigurasi hanya mengetahui LAN miliknya dan default gateway-nya. Jika dalam suatu LAN tidak ada default gateway-nya maka LAN tersebut tidak bisa terkoneksi dengan jaringan lainnya.
Jadi supaya dapat melakukan routing maka setting/Konfigurasi jaringan perlu ditambahkan satu lagi yaitu default gateway.
Sekarang ada tiga parameter yang penting pada setting/konfigurasi jaringan yaitu :
1.IP Address
2.Netmask
3.Default Gateway.
Tabel Routing
Supaya router bisa melayani permintaan untuk meneruskan pengiriman data, maka router harus mempunyai tabel yang dipakai sebagai patokan data ini harus saya kirim ke jaringan yang mana? Tabel yang dipunyai oleh router disebut sebagai tabel routing yang berisi NETID dan Default gatewaynya.
Gambar 4.5 Contoh desain jaringan dengan dua subnet
Berdasarkan gambar 4.5, berikut ini adalah skenario pengiriman data dari komputer 192.168.1.5 ke komputer 192.168.2.36 :
1.Komputer 192.168.1.5 ingin mengirim data ke 192.168.2.36, menyadari bahwa alamat tujuan tidak berada di jaringan lokal, maka komputer mencari daftar “default gateway” pada property TCP/IP yaitu 192.168.1.13. Paket data kemudian dikirim ke Gateway tersebut.
2.Pada komputer 192.168.1.13 paket data tersebut kembali diperiksa, dan ditemukan pada tabel routing bahwa paket tersebut dapat dikirim ke jaringan 192.168.2 lewat IP 192.168.2.43
3.Via IP 192.168.2.43 akhirnya data dapat ditransmisi ke tujuan yaitu 192.168.2.36
Router yang mempunyai tabel routing yang dikelala secara manual disebut sebagai static routing. Tabel tersebut berisi daftar jaringan yang dapat dicapai oleh router tersebut.
Static routing dapat mempelajari jaringan yang berada di sekelilingnya secara terbatas (bila hanya 2 jaringan), tapi bila terdapat banyak jaringan, maka administrator harus mengelola tabel routing tersebut secara cermat.
Dynamic routing adalah fungsi dari routing protocol yang berkomunikasi dengan router yang lain untuk saling meremajakan (update) tabel routing yang ada. Dengan demikian, administrator tidak perlu melakukan updating jalur (path) jika terjadi perubahan jalur transmisi (path). Dynamic routing umumnya digunakan untuk jaringan komputer yang besar dan lebih kompleks.
Konfigurasi Static Routing
Tabel routing biasanya berada pada /sbin/route dan command /bin/netstat –r. Sedangkan untuk melihat tabel routing bisa memakai command route atau netstat -r.
Untuk mendaftarkan jaringan pada tabel routing, maka sintaxnya adalah sbb:
Route add –net 10.0.0.0 192.168.1.11
Dalam percobaan kali ini kita akan mencoba mengkonfigurasi routing antara dua jaringan.
Minggu, 24 Juli 2011
Traffic Analysis for 2 -- ipv6.ppk.itb.ac.id
System:
ipv6.ppk.itb.ac.id in Labtek VI Lantai IV
Maintainer:
dikshie@ppk.itb.ac.id
Description:
xl0
ifType:
ethernetCsmacd (6)
ifName:
Max Speed:
1250.0 kBytes/s
Ip:
167.205.25.15 (ipv6.ppk.itb.ac.id)
The statistics were last updated Tuesday, 22 October 2002 at 19:20,
at which time 'ipv6.ppk.itb.ac.id' had been up for 0:22:51. `Daily' Graph (5 Minute Average)